"HADITS TENTANG METODE PENDIDIKAN ISLAM"
MAKALAH
HADIST TARBAWY
“Hadist Tentang Metode Pendidikan Islam”
Dosen Pengampu : Dr.Muhammad Saleh Ending,MA
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur yang takterhingga penyusun panjatkan kehadirat IllahiRabbi
, atas berkah ,rahmat,karuniadanhidayah-nya akhirnya penyusun dapat menyelesaikan
makalah ini.
Adapun tujuandisusun makalah ini ialah sebagai salah satu materi tugas
kegiatan yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa/mahasiswi dalam melaksanakan
studi di tingkat perkuliahan semester II .adapun judul yang penulis buat dalam makalah
ini adalah mengenai “Hadist Tentang
Metode Pendidikan Islam”
Dalam proses penyusunan makalah ini ,kami banyak mendapatkan bantuan,dukungan,sertaD’oa
dari berbagai pihak,oleh karena itu izinkanlah di dalam kesempatan ini kami
menghaturkan terima kasihdengan penuh rasa hormat serta dengan segala ketulusan
hati bapak Dr.Muhammad
Saleh Ending,MA .serta rekan-rekan umum nya rekan-rekan mahasiswa/mahasiswi
TADRIS MATEMATIKA kelas IIC IAIN MATARAM ,Hingga selesainya makalah ini.
Sangatlah disadari bahwa makalah yang kami buat ini masih banyak kekurangan
di dalam penyusunanya dan jauh dari kesempurnaan,untuk itu kami selaku penyusun
mengharapkan masukan baik saran maupun kritik yang kiranya dapat membangun dari
pada pembaca.demikian makalah yang kami susun semoga bermanfaat khususnya bagi kitasemua.
Mataram,16
Februari 2017
Penyusun
Kelompok
4
Daftar
Isi
Cover...................................................................................... i
Kata pengantar....................................................................... ii
Daftar isi................................................................................. iii
Bab I pendahuluan................................................................. 1
1.1
Latar belakang 1
2.1
Rumusan masalah 1
3.1
Tujuan dan manfaat 2
Bab
II isi................................................................................. 3
4.1
Pembahasan.............................................................................. 3
A. Hadist tentang perintah menggunakan PAIKEM................ 3
B. Hadist
pembicaraan harus jelas dan bila perlu diulang......... 4
C. Hadist tentang metode peragaan dan demonstrasi.............. 6
D. Hadist tentang metode cerita atau kisah.............................. 9
E. Hadist tentang Metode tanya jawab dan diskusi................. 10
F. Hadist
tentang metode mauizhah......................................... 12
G. Hadist
tentang metode targhib dan tarhib........................... 12
H. Hadist tentang metode perumpamaan................................. 15
Bab
III penutup...................................................................... 16
5.1
kesimpulan ................................................................................ 16
6.1
kritik dan saran........................................................................... 16
Daftar
pustaka........................................................................ 18
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG.
Dalam proses pendidikan islam, salah satu faktor terpenting untuk
tercapainya tujuan pendidikan adalah dengan metode pendidikan yang baik dan
tepat. Sehingga bisa dibilang kedudukan sebuah metode sangatlah signifikan. Sebaik apapun tujuan
pendidikan, jika metode yang digunakan tidak tepat, maka tujuan tersebut akan
sulit tercapai dengan baik. Sebuah metode akan mempengaruhi sampai tidaknya
sebuah informasi dapat diterima secara lengkap atau tidak. Bahkan metode
sebagai seni dalam mentransfer ilmu pengetahuan dianggap lebih penting dengan
materi itu sendiri, ini sesuai dengan hikmah yang selalu diingatkan kepada para
pendidik yaitu “At-Thariqat Ahamm min al-Maddah”( metode jauh lebih
penting daripada materi). Oleh sebab itu, pemilihan sebuah metode dalam proses
pembelajaran haruslah dipilih secara cermat dan tepat, agar hasil
pendidikan dapat memuaskan.
Terkait dengan metode pendidikan, Rasulullah SAW sejak awal sudah
mencontohkan dan melakukan metode pendidikan yang tepat kepada para sahabatnya.
Strategi pembelajaran yang beliau lakukan sangat akurat dan tepat dalam
menyampaikan ajaran islam. Rasulullah sangat memperhatikan situasi, kondisi dan
karakter seseorang sehingga nilai-nilai islam yang ditransferkan bisa dengan
mudah dipahami dan dikuasai oleh para sahabat. Maka dalam makalah ini akan
dijelaskan beberapa metode-metode pendidikan yang diterapkan oleh Rasulullah
dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan,
khususnya dalam pendidikan islam
2.1 RUMUSAN
MASALAH
a. Bagaimana hadist tentang perintah
menggunakan PAIKEM ?
b. Bagaiman hadist tentang pembicaraan
harus jelas dan bila perlu diulang?
c. Bagaimana hadist tentang metode peragaan dan demonstrasi?
d. Bagaimana hadist tentang metode cerita atau kisah ?
e. Bagaimana hadist tentang metode tanya jawab dan diskusi ?
f. Hadist
tentang metode mauizhah?
g. Hadist
tentang metode targhib dan tarhib?
h. Hadist
tentang metode ceramah?
3.1 TUJUAN DAN
MANFAAT
Meninjau rumusan masalah dari makalah ini, maka tujuan
pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
A. Mampu mengetahui hadist tentang perintah menggunakan PAIKEM
B. Mampu mengetahui hadist tentang pembicaraan harus jelas dan
bila perlu diulang
C. Mampu mengetahui hadist tentang metode peragaan dan
demonstrasi
D. Mampu mengetahui hadist tentang metode cerita atau kisah
E. Mampu mengetahui hadist tentang metode tanya jawab dan
diskusi
BAB II
ISI
4.1 PEMBAHASAN.
A. Hadist tentang perintah menggunakan PAIKEM
عَنْ أَبِيْ مُوْسَى قَالَ كَانَ
رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ أَحَدًا مِنْ
أَصْحَابِهِ فِي بَعْضِ اَمْرِهِ قَالَ بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوا
وَلاَ تُعَسِّرُا (رواه مسلم)
Dari Abu Burdah dari Abu Musa, ia berkata Rasulullah SAW
ketika mengutus salah seorang sahabat di dalam sebagian perintahnya Rasulullah
SAW bersabda berilah mereka kabar gembira dan janganlah mereka dibuat lari dan
permudahkanlah manusia dalam soal-soal agama dan janganlah mempersukar mereka
(HR. Imam Muslim).
Maksutnya :
Perintah
Nabi di atas memberikan pelajaran kepada para pendidik bahwa di dalam
melaksanakan tugas pendidikan, para guru/pendidik dituntut untuk menciptakan
proses pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan, berupaya membuat peserta
didik untuk merasa betah dan senang tinggal di sekolah bersamanya,dan bukan
sebaliknya justru memberikan kesan seram agar para siswa takut dan segan
kepadanya, karena sikap demikian justru akan membuat siswa tidak betah tinggal
di sekolah dan sekaligus akan sulit untuk bisa mencintai para guru beserta
semua ilmu ataupun pendidikan yang di berikan kepada mereka.
Analisis :
Hadist
diatas menjelaskan bahwa proses pembelajaran harus dibuat dengan semudah
mungkin dan sekaligus menyenangkan agar para peserta didik tidak tertekan
secara psikologis dan merasa bosan dengan suasana di kelas. Dengan pemilihan
metode yang sesuai dan tepat maka berjalannya proses pembelajaran akan mudah
dan menyenangkan bagi peserta didik. Suasana pembelajaran yang mudah dan
menyenangkan ini akan mempengaruhi minat belajar peserta didik untuk telibat
aktif dalam proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran akan dapat
tercapai dengan maksimal.
B. Hadist pembicaraan harus jelas dan
bila perlu diulang
عَنْ عَائِشَةَ رَحِمَهَا اللّهُ قَالَتْ
كَانَ كَلاَمُ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلاَمًا
فَصْلاً يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ (رواه ابو داود)
Dari Aisyah Rahimahallah berkata, sesungguhnya
perkataan Rasulullah adalah ucapan yang sangat jelas, dan dapat memahamkan
orang yang mendengarkannya. (HR. Abu Dawud)
Maksutnya
:
Didalam
hadist tersebut dijelaskan diantara sifat ucapan Rasulullah SAW adalah sangat
jelas dan mudah dipahami oleh orang yang mendengarkanya. Oleh karenanya,
Rasulullah SAW mengucapkan sesuatu kepada seseorang menggunakan gaya dan bahasa
dengan kemampuan dya tangkap pemikiran orang yang sedang diaajak bicara oleh
beliau.
Analisis :
Didalam
hadist diatas, pendidik mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran
yaitu proses penyampaian materi yang akan disampaikan kepada para murid. Dengan
perkataan yang jelas dan mudah dipahami proses penyampaian pesan dapat diterima
dengan baik oleh para murid. Perkataan yang jelas dalam hal ini bukan hanya
sekedar jelas. Namun lebih dari itu “jelas” disini adalah mampu memahamkanm
peserta didik yang dihadapinya.
Perkataan
yang jelas dan mudah dipahami akan menjadi salah satu factor keberhasilan
pendidikan. Diharapkan dengan adanya perkataan yang jelas dan mudah dipahami
tersebut anak didik akan dapat menyerap dan memahami apa yang disampaikan
pendidik.
حَدَّثَنَا عَبْدَةُ قَالَ حَدَّثَنَا
عَبْدُ الصَّمَدِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ
حَدَّثَنَا ثُمَامَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَلَّمَ سَلَّمَ ثَلَاثًا وَإِذَا
تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا (رواه البخارى)
Telah menceritakan kepada
kami Abdah berkata, Telah menceritakan kepada
kami Abdushshamad berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdullah
bin Al Mutsanna berkata; Tsumamah bin Abdullah telah
menceritakan kepada kami dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila memberi salam,
diucapkannya tiga kali dan bila berbicara dengan satu kalimat diulangnya tiga
kali. (HR. Imam Bukhori)
maksutnya :
Ada
perbedaan pendapat apakah salam termasuk syarat dalam meminta izin untuk
memasuki rumah atau tidak ? Imam Maziri berkata : bentuk permintaan izin ialah
dengan cara mengucapkan “Assalammua’alaikum, apakah boleh masuk?” kemudian ia
boleh memilih antara menyebutkan namanya atau hanya mengucapkan salam saja.
Imam
Isma’il berkomentar bahwa salam itu dilakukan secara berulang-ulang ketika
meminta izin, salam dilakukan secara berulang-ulang pada sekumpulan orang
banyak yang sebagian orang belum mendengar, begitu juga ia mengucapkan salam
dan dia menyangka orang pemilik rumah belum mendengar maka disunahkan
mengulanginya kembali dua atau tiga kali. Ada perbedaan pendapat mengenai
seseorang yang mengucapkan salam tiga kali dan menyangka kalau pemilik rumah
belum mendengar, menurut Imam Malik seseorang harus menambah salamnya sapai
pemilik rumah mendengarnya, kebanyakan ulama’ dan penganut madzhab Imam Maliki
berpendapat tidak boleh menambah salam karena mengikuti dhohirnya hadist.
Analisis :
Dalam
hadist diatas Rasulullah SAW menggunakan pengulangan dengan kalimat وَإِذَا
تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا Hadist ini mengindikasikan bahwa
pengajaran memerlukan banyak pengulangan. Pengulangan bahan yang telah
dipelajari akan memperkuat hasil belajar.. Nabi Muhammad SAW ketika menerima
wahyu yang pertama dalam keadaan “meniru dan mengulang” apa yang disampaikan
oleh Jibril.
Oleh
karena itu, hendaknya para pendidik sesudah materi disampaikan kepada peserta
didik diharapkan untuk melakukan pengulangan kembali. Hal ini dimaksudkan untuk
mempertinggi penguasaan peserta didik terhadap materi yang sudah diterima.
Demikian juga halnya sebelum memberikan materi yang baru, hendaknya para
pendidik melakukan pengulangan kembali terhadap materi sebelumnya hal ini
bertujuan untuk mengingatkan kembali kepada peserta didik tentang materi
sebelumnya dan juga agar materi yang sebelumnya tidak hilang begitu saja.
C.
Hadist tentang
metode peragaan dan demonstrasi
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ
رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَافِلُ اليَتِيْمِ لَهُ أَوْ
لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الجَنَّةِ وَأَشَارَ مَالِكٌ
بِالسَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah r.a , Ia berkata : Rasulullah SAW bersabda
: orang yang menanggung hidup anak yatim atau yang lainnya, maka saya ( Nabi)
dan dia seperti ini di dalam syurga dan Imam Malik mengisyaratkan seperti jari
telenjuk dan tengah (HR. Imam Muslim)
maksutnya :
Dari
hadist diatas yang dimaksud dengan ( كَافِلُ اليَتِيْمِ) adalah mencukupi segala kebutuhannya mulai dari nafakah,
pakaian, pendidikan sekolah dan bertanggung jawab atas baik buruknya adabnya.
Hal yang demikian ini mendapatkan keuatamaan baik dari hartanya sendiri maupun
harta anak yatimtersebut dengan menjadi walinya ini.
Maksud
dari أَوْ
لِغَيْره yaitu orang terdekatnya seperti kakek,
nenek, ibu, saudara laki-laki, saudara perempuan, paman dari ayah, paman dari
ibu bibi dari ibu dan orang lain.
Analisis :
Pada
hadist diatas menerangkan tentang hubungan kedekatan Rasulullah dengan orang
yang memelihara anak yatim. Rasulullah SAW mendemonstrasikan juga dengan jari
beliau. Beliau menerangkan kepada para sahabat bahwa kedudukan beliau dengan
orang yang memelihara anak yatim di surga begitu dekat, seperti kedekatan jari
tengah dan jari telunjuk.
Dalam
dunia pendidikan sekarang ini, para pendidik dianjurkan sekali untuk bisa
meneladani Rasulullah SAW dalam menjelaskan pelajaran dengan menggunakan alat
peraga dalam metode pengajarannnya. Metode peraga ini sekarang lebih dikenal
dengan sebutan media pendidikan. Media pendidkan adalah suatu benda yang dapat
dindrai, khususnya penglihatan dan pendengaran baik yang terdapat dalam maupun
luar kelas yang digunakan sebagai alat bantu penghubung dalam proses
pembelajaran. Media pendidikan bertujuan untuk meningkatkan efektifitas belajar
siswa. Media pendidikan mengandung beberapa beberapa aspek-aspek yaitu sebagai alat atau
sebagai teknik yang berkaitan erat dengan metode pengajaran
عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا
مَالِكٌ أَتَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ
شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُوْنَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِيْنَ يَوْمًا وَلَيْلَةً
وَكَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِيْمًا رَفِيْقًا
فَلَّمَا وَظَنَّ أَنَّا قَدْ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا أَوْ قَدْ اشْتَقْنَا
سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ ارْجِعُوْا إِلَى
أَهْلِيْكُمْ فَأَقِمُوا فِيْهِمْ وَعَلِّمُوْهُمْ وَمُرُوْهُمْ وَذَ كَرَ
أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْلاَ أَحْفَظُهَا وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي
أُصَلِّي فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدَكُمْ
وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُ كُمْ (رواه البخارى)
Dari Abi Qilabah katanya hadist dari Malik. Kami
mendatangi Rasulullah SAW Dan kami pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama
beliau selama (dua puluh malam) 20 malam. Rasulullah SAW adalah seorang yang
penyayang dan memiliki sifat lembut. Ketika beliau menduga kami ingin pulang
dan rindu pada keluarga, beliau menanyakan tentang orang-orang yang kami
tinggalkan dan kami memberitahukannya, beliau bersabda : kembalillah bersama
keluargamu dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan suruhlah mereka,
beliau menyebutkan hal-hal yang saya hapal dan yang saya tidak hapal. Dan
shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. (HR. Imam Bukhari)
maksutnya :
Hadist
ini sangat jelas menunjukkan tata cara shalat Rasulullah kepada sahabat.
Sehingga para sahabat dipesankan oleh Rasulullah agar shalat seperti yang
dicontohkan olehnya.
Maksud dari hadist diatas adalah mengenai metode peragaan
yang terdapat didalam kalimat hadist terakhir yaitu “ Dan shalatlah sebagaimana
kalian melihat aku shalat”. Dan apabila telah datang waktu shalat, maka
adzanlah salah satu diantara kalian. Dan yang paling tua diantara kalian
jadikanlah imam.
Analisis :
Dari
penjelasan diatas telah dijelaskan bahwa Rasulullah melakukan metode
demonstrasi tentang tata cara shalat kepada sahabatnya. Hal dimaksudkan unntuk
memperjelas tentang bagaimana tata cara shalat yang sesuai dengan Rasulullah.
Metode
demonstrasi adalah metode pembelajaran yang menggunakan peragaan untuk
memperjelas suatu pengertian atau bagaiman memperlihatkan sesuatu kepada
peserta didik. Metode demonstrasi ini dilakukan bertujuan agar pesan yang
disampaikan oleh pendidik dapat dikerjakan dengan baik dan benar oleh peserta
didik.
D.
Hadist tentang
metode cerita atau kisah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا
رَجُلٌ يَمْشِي فَشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَنَزَلَ بِئْرًا فَشَرِبَ مِنْهَا
ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا وَهُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ يَـأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ
فَقَالَ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلَ الَّذِي بَلَغَ بِي فَمَلاَ حُفَّهُ ثُمَّ
أَمْسَكَهُ بِفِيْهِ ثُمَّ رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لّهُ
فَغَفَرَ لَهُ قَالُوْا يَارَسُوْلُ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي البَهَائِمِ
أَجْرًا قَالَ فِي كَلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرُ (رواه البخارى)
Dari Abu Hurairah r.a, Ia berkata sesungguhnya
Rasululllah SAW bersabda : “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan-jalan
tiba-tiba ia merasa sangat haus sekali kemudian ia menemukan sumur lalu ia
masuk kedalamnya dan minum, kemudian ia keluar (dari sumur). Tiba-tiba datang seekor anjing
menjulur-julurkan lidahnya ia menjilati tanah karena sangat haus, lelaki itu
berkata : anjing itu sangat haus sebagaimana aku, kemudian masuk kesumur lagi
dan ia penuhi sepatunya (dengan air), kemudian ia (haus lagi) sambil menggigit
sepatunya dan ia beri minum anjing itu kemudian Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni,
sahabat bertanya wahai Rasulullah: adakah kita mendapat pahala karena kita
menolong hewan ? Nabi SAW menjawab : disetiap yang mempunyai limpa basah ada
pahalanya”. (HR.Imam Bukhori)
maksutnya :
Ketika
seorang laki-laki sedang berjlan tiba-tiba ia merasa sangat haus sekali,
kemudian ia menemukan sumur lalu ia masuk kedalamnya dan minum, kemudian ia
keluar (dari sumur). Tiba-tiba datang seekor anjing menjulur-julurkan lidanya
ia menjilati tanah karena sangat haus, lelaki itu berkata: anjing itu sangat
haus sebagaimana aku, kemudian masuk ke sumur lagi dan ia penuhi sepatunya
(dengan air), kemudian ia (haus lagi) sambil mengigit sepatunya dan ia beri
minum anjing itu kemudian Allah bersyukur kepadanya dan mengampuninya.
Menurut
Abdullah bin Dinar Allah memasukkan lelaki tersebut ke surga. Dari hadist ini
mengajarkan kepada kita senantiasa saling menyayangi sesame makhluk Allah
meskipun pada hewan yang diharamkan.
Analisis :
Hadist
diatas menjelaskan bahwa pendidikan dengan metode cerita dapat menumbuhkan
kesan yang mendalam pada anak didik, sehingga dapat memotivasi anak didik untuk
berbuat yang baik dan menjauhi hal yang buruk. Bahkan kaedah ini merupakan
metode yang menarik yang mana sering dilakukan oleh Rasulullah dalam
menyamapaikan ajaran islam. Teknik ini menjadikan penyampaian dari Rasulullah
menarik sehingga menimbulkan minat dikalangan para sahabatnya.
Teknik
bercerita ini adalah salah satu teknik yang baik untuk menerapkan aspek
pembangunan insan karena didalamnya mencakup seluruh metodologi pendidikan
yaitu pendidikan mental, akal, jasmani serta unsur-unsur yang ada dalam jiwa
seseorang, pendidikan itu melalui teladan dan nasehat. Bukti terbaik dari
metode ini adalah bagaimana setengah dari isi kandungan Al-Qur’an adalah
tentang cerita atau kisah dalam penyamapaian ajarannya.
E.
Hadist tentang
Metode tanya jawab dan diskusi
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَارَسُوْلُ اللَّهِ
مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ ؟ قَالَ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ
أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوْكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah r.a
Berkata : ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasul. Ya Rasulullah, siapakah
orang yang paling berhak saya hormati? Beliau menjawab : “Ibumu, kemudian
ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian yang lebih dekat dan yang
lebih dekat dengan kamu (HR. Muslim)
maksutnya :
Seorang ibu di mata anak-anaknya merupakan satu-satunya
figure yang paling berjasa dibanding lainnya, bagaimana tidak , karena dia
telah susah payah mengandungnya selama Sembilan bulan, dalam suka dan duka,
sehat maupun sakit, bayi yang masih berada dalam kandungan senantiasa dibawa
kemana dia pergi dan berada, bahkan tidak jarang seorang ibu yang sedang
mengandung muda sampai berbulan-bulan tidak mau makan nasi karena jika hal itu
dia lakukan akan kembali keluar/muntah.
Imam
An-Nawawi mengatakan bahwa,didalam hadist tersebut terdapat anjuran untuk
berbuat baik kepada kerabat dekat, dan ibu adalah yang paling berhak
mendapatkan itu, baru kemudian ayah dan kemudian kerabat yang paling dekat.
Para ulama mengatakan bahwa sebab didahulukannya ibu adalah karena kelelahan,
beban berat dan pengorbanannya di saat mengandung, melahirkan, menyusui,
perawatan pendidikan dan dan lain sebagainya.
Analisis :
Dari penjelasan hadist diatas, Rasulullah menggunakan
metode tanya jawab sebagai starategi pembelajarannya. Beliau sering menjawab
pertanyaan dari sahabatnya ataupun sebaliknya. Metode tanya jawab ini sendiri
ialah metode pembelajaran yang memungkinkan adanya komunikasi langsung antara
pendidik dan peserta didik.sehingga komunikasi ini terlihat adanya timbal balik
antara guru dengan siswa. Tujuan terpenting dari metode tanya jawab ini adalah
para guru atau pendidik dapat mengetahui sejauhmana para murid dapat mengerti
dan mengungkapkan apa yang telah diceramahkan.
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا
أَوْمَظْلُوْمًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُوْلُ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ
مَظْلُوْمًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ
تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهٌ مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ (رواه
البخارى)
Dari Anas bin Malik ra, Ia berkata, Rasulullah SAW telah
bersabda : “Tolonglah saudaramu yang dzalim maupun yang didzalimi. Mereka
bertanya : “Wahai Rasulullah bagaimana jika menolong orang dzalim? Rasulullah
menjawab : “tahanlah (hentikan) dia dan kembalikan dari kedzaliman, karena
sesungguhnya itu merupakan pertolongan kepadanya (HR. Imam Bukhari)
maksutnya :
Dalam
hadist diatas dijelaskan bahwa Rasulullah memerintahkan kepada umatnya agar
menolong saudaranya baik dalam keadaan dhalim atau madhlum (didzalimi).
Ibnu
Bathal mengatakan : (النصر) menurut orang arab berarti (اعانة) pertolongan, sungguh Rasulullah telah menjelaskan bahwa
menolong orang yang dzalim itu caranya dengan mencegah dari berbuat aniaya
karena jika engkau tidak mencegahnya, maka dia akan melakukan perbuatan aniaya
hingga di qishas. Pencegahan yang kamu lakukan dengan cara mengqishasnya itu
juga bisa dikatakan menolong orang yang beruat dzali.
Analisis :
Diskusi
pada dasarnya adalah tukar menukar informasi dan unsur pengalaman secara
teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan
lebih teliti tentang sesuatu atau untuk mempersiapkan atau merampungkan
keputusan bersama.
Jika
ditelaah dari bebarapa riwayat hadist, Rasulullah adalah orang yang paling
banyak melakukan diskusi. Metode diskusi ini sering dilakukan oleh Rasulullah
bersama para sahabatnya untuk mencari kata sepakat. Tetapi walaupun Nabi sering
melakukan dan membolehkan mendidik dengan metode diskusi akan tetapi dalam
pelaksanaanya harus dilakukan dengan hikmah ataupun dengan bijak agar segala
permasalahan dapat diselesaikan dengan baik dan tanpa ada permusuhan, karena
metode diskusi berbeda dengan debat. Jika debat adalah perang argumentasi,
beradu paham dan kemampuan persuasi dalam memenangkan pendapatnya sendiri. Maka
dalam metode diskusi diharapkan semuanya memberi sumbangsih sehingga semua bisa
paham dan dimengerti secara bersama.
F. Hadist tentang metode mau’izhah
Metode ini disebut juga metode “nasehat” yakni suatu metode
pendidikan dan pengajaran dengan cara pendidik memberi motivasi. Metode Ibrah
atau mau’zhah (nasehat) sangat efektif dalam pembentukan mana anak didik
terhadap hakekat sesuatu,serta memotivasinya untuk bersikap luhur, berakhlak
mulia dan membekalinya dengan prinsip-prinsip islam. Menurut Al-qur’an, metode
nasehat hanya diberikan kepada mereka yang melanggar peraturan dalam arti
ketika suatu kebenaran telah sampai kepadanya, mereka seolah-olah tidak mau tau
kebenaran tersebut terlebih melaksanakannnya. Pernyataan ini menunjukkan adanya
dasar psikologis yang kuat, karena orang pada umumnya kurang senang dinasehati,
terlebih jika ditunjukkan kepada pribadi tertentu.
عن عُمَرَ بْنَ أَبِي سَلَمَةَ
يَقُولُ كُنْتُ غُلاَمًا فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ
مِمَّا يَلِيكَ فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِي بَعْدُ. رواه البخارى
Umar bin Abi Salmah ra. berkata, “Dulu aku menjadi
pembantu di rumah Rasulullah saw.. Ketika makan, biasanya aku mengulurkan
tanganku ke berbagai penjuru. Melihat itu beliau berkata,
‘Hai ghulam, bacalah basmallah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah
apa yang ada di dekatmu.
G.
Hadist tentang metode targhib dan tarhib
Metode ini, disebut pula metode “ancaman” dan atau “intimidasi” yakni suatu metode
pendidikan dan pengajaran dengan cara pendidik memberikan hukuman atas
kesalahan yang dilakukan peserta didik. Istilah targhib dan tarhib dalam
al-qur’an dan as-sunnah berarti ancaman atau intimidasi melalui hukuman yang
disebabkan oleh suatu dosa kepada Allah dan Rosulnya. jadi, iya juga dapat
diartikan sebagai ancaman Allh melalui penonjo;an salah satu sifat keagungan
dan kekuatan illahiyah agar mereka(peserta didik) teringat untuk tidak
melakukan kesalahan.
Rasulullah SAW.
banyak menggunakan targhib dalam
mendidik sahabat (umat)nya. Di antaranya dapat dilihat dalam hadis berikut ini.
عَنْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ
يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ
حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ
أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ
وَمِيمٌ حَرْفٌ. رواه الترمذى
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah
saw bersabda: Siapa yang membaca satu huruf Alquran mendapat pahala satu
kebaikan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Saya tidak mengatakan
“Alif Lam Mim” itu satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lam satu huruf,
dan mim satu huruf.
عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قَالَ لِي
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَمَا أُمِرَ ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ حَتَّى يَأْتِيَ
الْجُمُعَةَ وَيُنْصِتُ حَتَّى يَقْضِيَ صَلاَتَهُ إِلاَّ كَانَ كَفَّارَةً لِمَا
قَبْلَهُ مِنْ الْجُمُعَةِ. رواه النسائى
Dari Salman, ia berkata Rasulullah saw. berkata kepadaku,
Setiap orang yang menyucikan diri pada
hari Jumat sebagaimana diperintahkan, kemudian keluar dari rumahnya untuk
menghadiri salat Jumat, ia diam sampai selesai salat akan diampuni dosanya
sejak Jumat yang lalu.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ
مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ رَخَّصَهَا اللَّهُ لَهُ لَمْ يَقْضِ عَنْهُ صِيَامُ
الدَّهْرِ. رواه البخارى وأبو داود والترمذى
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, Siapa yang berbuka satu hari pada bulan
Ramadan tanpa rukhsah yang diberikan Allah tidak dapat mengqada puasanya itu
walaupun ia berpuasa sepanjang masa.
Ada beberapa kelebihan yang paling berkenaan dengan metode
targhib dan tarhib ini antara lain :
a.
Taghib dan tarhib bertumpu pada pemberian kepuasan dan
argumentasi.
b.
Targhib dan tarhip disertai gambaran keindahan surgaynag
menakjubkan atau pembebasan azab neraka.
c.
Targhib dan tarhib islami bertumpu pada pengobatan emosa dan
pembinaan efeksi ketuhanan.
d.
Targhib dan tarhib bertumpu pada pengontrolan emosi dan
keseimbangan antara keduanya.
H. Hadist tentang
metode perumpamaan
Metode
ini, disebut pula metode “amsal” yakni
cara mendidik dengan memberikan perumpamaan, sehingga mudah memahami suatu
konsep.perumpamaan yang diungkapkan Al-qur’an memiliki tujuan psikologi
edukatif, yang ditunjukkan oleh kedalaman makna dan ketinggian maksudnya.
Dampak
edukatif dari perumpamaan Al-quran dan Nabawi diantaranya :
a. Memberikan kemudahan dalam memahami
suatu konsep yang abstrak, ini terjadi karena perumpamaan itu mengambil benda
sebagai contoh konkrit dalam Al-Quran.
b. Mempengaruhi emosi yang sejalan
dengan konsep yang diumpamakan dan untuk mengembangkan aneka perasaan ketuhanan.
c. Membina akal untuk terbiasa berfikir
secara valid pada analogis melalui penyebutan premis-premis.
d. Mampu mencipatan motivasi yang
menggerakkan aspek emosi dan mental manusia.
BAB
III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian hadist dan analisis diatas , dapat
dikemukakan beberapa catatan sebagai berikut :
Pertama, segala proses pembelajaran yang
dilaksanakan harus dibuat dengan semudah mungkin dan sekaligus menyenangkan
agar para peserta didik tidak tertekan secara psikologis dan merasa bosan dengan
suasana di kelas. Maka untuk menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif,
para pendidik dianjurkan untuk menggunakan metode pembelajaran aktif, inovatif,
kreatif, efektif dan menyenangkan atau dikenal dengan PAIKEM.
Kedua, para pendidik ketika dalam proses
penyampaian materi harus jelas dan mudah diapahami agar proses penyamapaian
materi dapat diterima dan dipahami oleh peserta didik dan apabila diperlukan
pengulangan, maka hendaknya para pendidik untuk menggulangi perkataannya
kembali dengan maksud untuk menambah penguasaan peserta didik terhadap materi.
Ketiga, para pendidik diharapkan bisa
melakukan metode peragaan dan demonstrasi dalam proses pembelajarannya. Karena
dengan menggunakan metode peragaan proses pembelajaran akan lebih mudah
diterima dan dipahami oleh peserta didik karena adanya
alat bantu penghubung dalam proses pembelajaran. Media
pendidikan bertujuan untuk meningkatkan efektifitas belajar siswa.
Keempat, bahwa pendidikan dengan metode
cerita dapat menumbuhkan kesan yang mendalam pada anak didik, sehingga dapat
memotivasi anak didik untuk berbuat yang baik dan menjauhi hal yang buruk.
Kelima, Metode tanya jawab ialah metode
pembelajaran yang memungkinkan adanya komunikasi langsung antara pendidik dan
peserta didik.sehingga komunikasi ini terlihat adanya timbal balik antara guru
dengan siswa. Tujuan terpenting dari metode tanya jawab ini adalah para guru
atau pendidik dapat mengetahui sejauhmana para murid dapat mengerti.
Diskusi pada dasarnya adalah tukar menukar informasi dan
unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama
yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu atau untuk mempersiapkan atau
merampungkan keputusan bersama.
KERITIK
DAN SARAN
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih
banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
membangun sangat kami harapkan agar dalam penyampaian makalah selanjutnya
semakin lebih baik. Semoga makalah ini dapat menambah wacana keilmuan dan
memberi manfaaat bagi kita semua baik didunia maupun di akhirat. Amin
DAFTAR PUSTAKA
Bukhari umar, Hadist Tarbawi (pendidikan dalamperspektif
hadis)penerbit amzah.
Dillanazaly.blogspot.com/2013/10/hadist-tentang dasar-dasar
pendidikan-pukul 10:12 wita tgl 20 februari 2017.

Komentar
Posting Komentar